Alhamdulillah, setelah sekian lama absen dari dunia per-blog-an, setelah sekian lama blog ini aku acuhkan tanpa pernah aku isi atau kunjungi sekalipun, setelah sekian lama perhatianku terhadap dunia tulis menulis di dunia maya ini teralihkan oleh suatu hal, aku kembali. Bisa dikatakan saat ini aku tengah mencari bentuk pelarian lainnya yang positif. Dan aku mencoba untuk mengarahkan ke menghasilkan beberapa tulisan yang nantinya akan ku-publish di sini.
...
Wisuda tanggal 18 April 2009 adalah hari yang sangat dinanti-nantikan, terutama bagi yang diwisuda pada hari itu. Ini adalah kisah tentang seorang yang ada di acara wisuda itu bukan sebagai wisudawannya, tapi sebagai yang mengabadikan momennya. Yang dalam hati kecilnya ingin segera juga untuk diwisuda. Apa daya, Tugas Akhir yang sempat terbelengkalai beberapa bulan, akhirnya menunda hingga Juli 2009 nanti. Namun, kejadian di hari itu yang dialami pemuda ini, di satu sisi menghasilkan satu konsekuensi yang cukup berat, tapi di sisi yang lain justru menjadi titik balik untuk menyeriusi satu tahap terakhir di kampus ini.
Pagi itu, terdapat acara International Day di kampus. Acara ini diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa internasional yang terdapat di ITB. Berupa pameran produk kebudayaan masing-masing negara dan di akhiri dengan suatu performance dari mereka di malam harinya. Mahasiswa-mahasiswa dari Kamboja, Vietnam, Laos, Malaysia, Ceko, Indonesia, dan lainnya turut di dalamnya, memperkenalkan budaya-budaya khas negara mereka.
Seperti biasa, sesuai dengan hobi fotografinya, Dhawir menenteng Canon 450D dengan lensa Sigma DC 3.5-6.3f/18-200 mm ke kampus untuk mengabadikan momen tersebut. Pada hari yang sama, juga terdapat wisuda. Jadi, sekalian saja. Setelah dari acara pameran tersebut, langsung ke gerbang depan, menunggu wisudawan/wisudawati yang datang diarak oleh masing-masing himpunannya.
Di acara pameran itu, Dhawir bertemu denga salah seorang kawannya yang berkebangsaan Vietnam yang bernama Anh. Kebetulan dia menjaga stand budaya untuk Vietnam. Selain Anh, ada juga Hung, temannya Dhawir dulu sewaktu mengambil mata kuliah Motor Bakar Torak. Dhawir pun segera mengabadikan aksi Hung menjelaskan produk budayanya ketika ada orang dari GTV yang datang mendokumentasikan acara ini. Dia pun mengabadikan Anh di depan stand-nya.
Tak lama kemudian, ada pementasan dari Capoeira ITB. Dhawir segera mengambil posisi untuk membidik gerakan-gerakan dari olahraga asal Brazil yang menarik untuk didokumentasikan. Namun, hal yang tidak diharapkan, tidak diekspektasikan, terjadi. Lensanya rusak. Pada bagian dari lensa yang diputar untuk mengatur perbesarannya, tidak bekerja dengan baik. Ketika diputar, tidak terjadi perbesaran pada lensanya. Seakan-akan pada bagian ini ada yang lepas dengan lensa perbesaran di dalamnya. Tapi, the show must go on. Akhirnya, perbesarannya di atur dengan cara manual, sebuah cara yang sangat aneh dalam dunia fotografi.
Usai pertunjukkan itu, Dhawir mencoba mengutak atik lensanya supaya bisa kembali seperti semula. Nihil. Terpaksa dia harus mengabadikan wisuda kali dengan kondisi lensa yang sangat mengenaskan. Dengan kondisi seperti itu juga, dia nampak seperti kehilangan spirit fotografi. Beberapa hasilnya juga kurang memuaskan setelah dilihat sesampainya di rumah.
Sesaat itu juga, dia merenung. Apakah memang ini tandanya dia harus hengkang dulu dari hobinya yang sudah digeluti beberapa waktu belakangan ini. Apakah ini peringatan dari-Nya untuk segera menyelesaikan Tugas Akhir-nya. Ditambah lagi beberapa kata-kata dari kawan-kawannya yang mengingatkan, "Wir, kapan mo difotonya kalo kamu foto-foto terus?" Dia membenarkan juga. Sebenarnya bukan kapan akan difotonya yang dia tangkap dari sindiran itu, tapi akan diwisuda kalau dia masih saja sibuk dengan kegiatan fotografi. Hmmmph, dia menghela nafas malam itu. Sebuah keputusan yang berat untuk kelancaran satu urusan yang lain dan lebih utama.
Keputusan sudah dibuat. 2 bulan akan divakumin dari kegiatan fotografi, dari pemotretan, pengeditan, hingga peng-upload-an ke situs-situs tertentu. Untuk kelancaran Tugas Akhir. Semoga ini yang terbaik...
Karena dia yakin Engkaulah yang paling paham akan hamba-Nya...
Wallahu'alam,
Read More..