4.24.2010

3

Dalam 2 minggu terakhir di bulan ini,saya mendapatkan beberapa pelajaran dari apa yang saya tonton dan baca. Ada 3 hal yang saya tonton dan baca yang di dalamnya terdapat beberapa pelajaran yang ingin saya share. Dan ketiga hal tersebut memiliki satu tema besar yang sama,yaitu ke-Indonesia-an. Artinya,semua yang dibahas oleh ketiga hal tersebut adalah Indonesia,dengan segala prestasi dan carut marutnya. Apa saja ketiga hal tersebut beserta pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya?
(Ada 'Read More')
Pertama. Adalah sebuah film yang berjudul 'Alangkah Lucunya (Negeri Ini)'. Sebuah film yang disutradai oleh Deddy Mizwar mengangkat permasalahan-permasalahan yang kerap kita jumpai di kota-kota besar. Mungkin tidak kita jumpai,bahkan beberapa di antaranya kita alami sendiri. Dengan latar kota Jakarta,diceritakan ada seorang pemuda yang bernama Muluk,lulusan sebuah perguruan tinggi dengan predikat 'Sarjana Ilmu Manajemen',tengah mencari pekerjaan. Semua info lowongan yang dia dapatkan sudah disambangi olehnya. Namun,tak satupun yang mampu untuk memberikannya pekerjaan. Ada yang perusahaannya tengah pailit karena hutang yang melilit. Ada juga yang karena pabriknya sudah dipindah ke negara lain. Di tengah-tengah usahanya mencari pekerjaan tersebut,dia memergoki sekelompok anak yang bekerjasama untuk mencopet di sebuah pasar kaget. Melihat hal ini,Muluk pun mengejar anak-anak tersebut. Dari sinilah semuanya bermula. Dia berkenalan dengan pimpinan dari pencopet anak-anak tersebut dan menawarkan sebuah proposal kerjasama untuk mengelola uang hasil copet tersebut. Uang yang dikelola tersebut digunakan untuk mendidik anak-anak tersebut untuk bisa baca tulis,berbudi pekerti yang luhur dengan memberikan kepada mereka pendidikan tentang agama,dan tentunya,mencegah mereka untuk kembali mencopet dengan memberikan mereka alternatif ladang usaha yang lain,yaitu mengasong.
Di tengah-tengah usahanya untuk menghidupi dirinya dan beberapa orang temannya yang terlibat di dalamnya dan memperbaiki nasib dari pencopet anak-anak tersebut,dia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa uang dia kelola tersebut adalah uang yang didapat dari cara yang tidak halal. Di sini letak dilemanya. Di satu sisi,dia membutuhkan pekerjaan dan ingin membantu anak-anak itu tumbuh menjadi lebih 'berpendidikan'. Namun,di sisi yang lain,itu tadi,uang yang diputarkan di situ tidak halal. 'Alangkah Lucunya' memang ketika kita sedari dini diwajibkan oleh pemerintah untuk mengenyam pendidikan selama 9 tahun bahkan lebih hingga 16 tahun (hingga perguruan tinggi),tapi setelah itu hanya menjadi pengangguran hanya karena terbatasnya kesempatan kerja. Entah itu disebabkan oleh kurangnya investasi karena 'belibet'-nya mengurus perizinan untuk usaha atau kurangnya inovasi dari pemerintah untuk menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang memiliki sklill dan terdidik. Kalaupun ada,itupun tersedia untuk yang unskilled dan fairly uneducated,seperti menjadi TKI. 'Alangkah Lucunya' memang ketika anak-anak yang mencopet itu ditelantarkan begitu saja. Padahal ada amanat undang-undang yang menegaskan bahwa 'fakir miskin dan anak-anak terlantar diasuh oleh negara'. Dan di film tersebut,ketika anak-anak tersebut sudah berhenti mencopet dan berusaha untuk memperoleh penghidupan,yang seharusnya mereka dapatkan dari pemerintah,dengan cara yang lebih halal,yaitu mengasong,mereka malah diteror oleh satuan semi-militernya pemerintah kota,Satpol PP. Suatu gambaran yang miris tentang kondisi bangsa kita dan tak pelak kita jumpai,bahkan kita alami,setiap hari. Perilaku korup dan oportunis destruktif yang menjangkiti para perwakilan rakyat dan pemangku kebijakan negeri ini menyebabkan buta mata dan nuraninya akan kenyataan di bangsa yang diwakili dan dipimpinnya ini. Semangat mengabdi untuk bangsa sedikit demi sedikit terkikis oleh gemerlap dan basahnya dunia di balik pagar tinggi senilai Rp 2,1 Miliar itu.
Kedua. Sebuah buku karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul 'Jalan Raya Pos,Jalan Deandels'. Di cover belakang dari buku ini terdapat quote dari beliau yang sangat menohok.
"Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain."
Di dalam buku ini,beliau memaparkan bagaimana menderitanya bangsa ini ketika 'dipaksa' untuk membuat jalan dari Anyer hingga Panarukan yang berjarak 1000 km. Sebenarnya pekerjaannya bukan membuat jalan,tapi melebarkan jalan. Tapi,tetap saja,dengan kondisi bangsa yang terjajah dimana aksesibilitas untuk memenuhi kebutuhan hidup sangat dibatasi,hal ini cukup 'membunuh' mereka perlahan-lahan. Diceritakan pula oleh beliau perilaku korupsi para pembesar pribumi dan pejabat kulit putih dalam memeras rakyat. Ternyata akar dari tipikor yang marak dilakukan pejabat-pejabat kita ini sudah ada sejak zaman penjajahan dulu. Bagaikan penyakit genetis yang turun temurun,masih saja kita jumpai hal tersebut di zaman yang sudah merdeka ini (walaupun tidak semua orang merasa 'merdeka' sepenuhnya). Dari pemaparan beliau nampak betapa lemahnya bangsa ini saat itu. Harga tiap-tiap nyawa yang melayang karena mengerjakan jalan ini seakan-akan tidak lebih baik dari komoditas terendah yang diperdagangkan saat itu sekalipun. Masih saja kita dapat temui hal-hal tersebut di zaman sekarang ini,di saat kaum terdidiknya jauh lebih banyak dibandingkan saat itu. Masih saja kita diperas kekayaan alamnya. Masih saja kita tunduk pada kekuatan moneter asing yang memberikan kita hutang. Salah seorang kawan yang saat ini tengah bekeja di Menko Perekonomian mengatakan bahwa hutang kita masih sekitar Rp 100 Triliun. "Dan jangan salah,dit. Uang yang digunakan untuk pembangunan yang kamu liat sekarang ini adalah hasil hutang. Karena kalo ga gitu,maka pembangunan akan lambat. Tapi,di buruknya adalah hal ini menjadi semacam 'candu'...",begitu katanya. 'Macan Asia Tenggara' yang dahulu ketika Orba disematkan kepada negara ini,ternyata rapuh di dalam. Sehingga,ketika datang waktunya,rontoklah semua sendi-sendinya. Lalu,terkulai lemaslah 'macan' itu dihajar krisis.
Ada hal yang menarik dari buku ini,terkait para penjajah tersebut. Ada perbedaan 'gaya' menjajah antara Inggris dan Belanda. Dan mungkin bisa saya simpulkan,dari situlah kemungkinan Malaysia dan negara persemakmuran lainnya bisa one step ahead from us. Belanda,ketika menjajah,hanya memeras sumber daya alam yang ada di bumi nusantara ini,lalu dibuatlah suatu sistem monopoli komoditi internasional untuk memperdagangkan hasil 'perasan' dari negeri-negeri jajahannya. Sehingga,celah-celah untuk bermain kotor pun terbuka lebar. Tak heran,korupsi dan beberapa sistem 'paksa' seperti Tanam Paksa,Tanam Kopi Paksa serta Kerja Paksa,menjadi hal yang akut terbawa hingga sampai ke zaman Orba. Lalu,bagaimana dengan Inggris? Mereka tidak hanya mengambil kekayaan alamnya saja,tapi membenahi administrasi di tiap-tiap negeri jajahannya. Dan kekayaan alam yang diambil ini akan diolah di negeri mereka dan diekspor kembali ke negeri-negeri jajahannya. Maka,tak heran Malaysia memiliki tingkat korupsi yang lebih rendah,mampu memproduksi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh bangsanya sendiri,bahkan mengekspor hingga ke negara-negara lain,tak terkecuali Indonesia. Begitu juga dengan India. Warisan sistem dari penjajah ternyata memiliki pengaruh yang berbeda-beda pada tiap negara jajahannya yang telah merdeka sekarang. Tapi,tetap saja,yang namanya dijajah tidak enak.
Ketiga. Berita tentang penyerangan pekerja lokal PT. Drydock Graha di Batam. Yang menyulut adalah perkataan salah seorang WNA berkerwarganegaraan India. Dia mengatakan bahwa orang Indonesia bodoh. Tentu saja WNA ini memiliki posisi jabatan yang lebih tinggi. Lalu,terjadilah penyerangan tersebut. Pekerja lokal membawa peralatan apapun yang ada di pabrik untuk dibawa merusak fasilitas-fasilitas yang ada. Dan tidak ada dari para pekerja tersebut yang tidak ikut aksi penyerangan ini. Semuanya ikut di dalamnya. Menunjukkan betapa perkataan itu sangat merendahkan sekali dan mungkin dikatakan tidak hanya dikatakan sekali dua kali saja. Mungkin ini adalah akumulasi yang memuncak pada hari itu.
Ya,memang WNA ini menyalahi kode etik yang berlaku di ketatatenagakerjaan negara ini. Tapi,dari situ kita melihat betapa rendahnya kita di mata bangsa-bangsa lain. Dan perkataan itu spontan keluar yang tentu saja bukan hal yang dinafikan oleh yang mengatakan. Serendah itukah kita? Kita boleh berpuas hati karena beberapa WNA dipecat akibat kejadian ini. Tapi,maukah kita kembali dikatakan 'bodoh' oleh WNA-WNA lainnya? Evaluasi buat kita untuk terus membangun kapasitas diri menjadi lebih baik ke depannya. Sehingga,dengan sendirinya,citra positiflah yang akan terpancar. Kita adalah bangsa yang kaya. Dikaruniai begitu banyak kekayaan alam dan keanekaragaman hayati. Syukuri dengan mengoptimalkan segala daya yang kita punya tersebut. Karena itu,yakinlah,pada saatnya nanti bangsa ini akan besar dan bercitra positif dengan sendirinya,serta mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia.

2 comments:

Akhid Nur Setiawan Abu Kholid bin Jamal As-Sulaimani mengatakan...

Semua orang Indonesia terkena debu riba, tak terkecuali para kiyai dan ulama, lha wong negarane dibangun nganggo duit utang. Utangnya bukan ke bank syari'ah tapi ke rentenir yang ngasih utang berbunga. Hehe...

Jabon mengatakan...

petani jabon mampir nich,,,
salam...