Di tanggal 9 Juni, sebuah kuliah umum dengan tajuk ‘Renewable Energy in South East Asia’ diadakan oleh IMechE (Institution of Mechanical Engineer) di London. Pengisi kuliah ini adalah David Raubenheimer, seorang Managing Director - Direct Projects dari Sindicatum Carbon Capital yang memiliki HQ di Singapura dan beberapa kantor perwakilan di Jakarta dan Bangkok. Perusahaan ini bergerak di bidang investasi dan jasa konsultasi serta assistance dari aplikasi serta pengembangan dari pemanfaatan energi terbarukan (dalam bentuknya yang beragam). Beberapa proyek mereka tersebar di beberapa negara kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Di Thailand, mereka memiliki proyek power generation dengan bahan bakar sampah (landfill waste). Di Indonesia sendiri, tepatnya di Sumatera Selatan, mereka memiliki proyek serupa dengan bahan bakar singkong. Dan yang memberikan kuliah ini (David Raubenheimer) adalah salah seorang yang terlibat langsung dalam proyek-proyek tersebut.
Kuliah ini mengupas sebagian dari potensi energi terbarukan dan bagaimana implementasinya di kawasan ASEAN. Dibuka dengan pemaparan mengenai potensi ekonomi ASEAN yang diklaim sebagai “the rapid growing region around the globe” yang merupakan turunan dari kesuksesan Cina yang sedikit demi sedikit mendominasi perekonomian dunia. Potensi ini diikuti dengan peningkatan demand akan energi yang dibutuhkan untuk power generation serta industrial activity. Hingga saat ini batu bara masih menjadi prime option untuk pemenuhan kebutuhan tersebut. Kesadaran akan terbatasnya preserved resource dari batubara membuat negara-negara ASEAN mencari alternatif to keep up with the growth. Energi terbarukan menjadi salah satu opsinya. Subsidi bahan bakar fossil dari pemerintahan lokal tak lepas dari pemaparan latar belakang mengapa energi terbarukan menjadi concern di kawasan ASEAN. Ditunjukkan sebuah diagram batang dimana Indonesia menduduki peringkat pertama, diikuti oleh Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di negara-negara ini, subsidi memainkan peranan yang sangat besar pengaruhnya terhadap policy decision dan penerapannya di lapangan (sebagaimana yang terjadi di Indonsia saat ini, dengan polemik subsidi yang tidak pada sasaran-nya).
Bagaimana dengan posisi energi terbarukan dalam skema suplai energi di kawasan ASEAN? 92% masih tetap dikuasai oleh bahan bakar fosil. Sisanya, 18%, adalah energi terbarukan, yang didominasi oleh hydro power dan diikuti oleh geotermal serta biomass atau waste. Sedangka, angin dan surya, dari aplikasi teknologi yang ada masih belum menunjukkan kontribusi se-signifikan hydro, geotermal, dan biomass atau waste. Ke depannya, diharapkan porsi suplai energi terbarukan ini dapat meningkatkan, tidak hanya stay di angka 18% saja. Ada beberapa supporting mechanism yang bisa diimplementasikan untuk membantu promoting the use of energi terbarukan. Beberapa mekanisme ini sudah widely use di negara-negara Eropa dan coba untuk dikenalkan kepada negara-negara kawasan ASEAN (tentunya dengan penyesuaian dengan kultur kebijakan, kultur sosial, etc). And those are,
-Feed in Tariff (FiT)
-Tradable certificate: Salah satu contoh sertifikasi yang dipaparkan di kuliah ini adalah ROC
-Connection availability
-Some support inward investment
Berikutnya, kuliah ini memaparkan facts figures mengenai energi terbarukan di beberapa negara ASEAN antara lain,
Thailand
Memiliki target suplai energi dari energi terbarukan sebesar 20% di tahun 2020. Diekspektasikan suplai ini dipenuhi oleh pemanfaatan biomass atau waste serta di-back up oleh angin dan surya. Sudah mempraktekan FiT selama beberapa tahun belakangan ini. Tarif dari FiT berkisar antara 1 - 26 UScents/kWh. Kalau di-break down,
-Biomass/Biogass: 1-11 UScents/kWh > telah sukses di-implimentasikan, menggunakan soy milk waste dan rice husk (kulit padi)
-Waste landfill gas: 18 UScents/kWh > reasonably attractive to be considered forward
-Thermal waste incineration (PLTSa): 21 UScents/kWh > tidak menarik, karena kapasitas pembangkitan yang rendah
-Angin: 21 UScents/kWh (untuk kapasitas pembangkitan di atas 50 kW) > terkendala masalah lahan
-Surya: 36 UScents/kWh (including the brown tariff)
Sedangkan untuk brown tariff-nya (tarif /kWh penggunaan fossil fuel untuk electric generation) termasuk tinggi untuk di Thailand-nya sendiri, sekitar 10 UScents/kWh. Hal ini mengindikasikan kenyataan bahwa Thailand banyak mengimpor bahan bakar untuk suplai energi-nya, seperti gas dari Myanmar dan Malaysia, dan batu bara dari Indonesia. Thailand pun tengah terlibat konflik dengan Kamboja terkait perebutan wilayah dimana di dalamnya terkandung gas yang dapat mensuplai Thailand selama 40 tahun ke depan serta dapat menurunkan brown tariff-nya. Insentif serta kemudahan finansial bagi perusahaan-perusahaan asing yang ingin berinvestasi di bidang energi terbarukan pun ditawarkan tanpa ada restriksi. Salah satu yang ditawarkan adalah 8-years tax holiday. Hingga saat ini, Thailand sudah mencapai kurang 10% dari target yang dipatok untuk pemanfaatan energi terbarukan.
Indonesia
Memiliki target suplai energi dari energi terbarukan sebesar 15% di tahun 2025. Brown tariff di Indonesia berkisar antara 7 - 10 UScents/kWh. Beberapa potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia,
-Geotermal > karena letaknya yang berada di Ring of Fire
-Hydro power > the nature of its terrain
-Surya > masih terkendala mahalnya biaya instalasi /kWh dari solar panel
-Biomass
-Angin > in search untuk tempat yang memiliki requirement angin yang dibutuhkan untuk pembangkitan
-Off-grid PV (photovoltaic) > untuk mengatasi kendala geografis Indonesia yang berpulau-pulau sehingga daerah-daerah terpencil dapat terelektrifikasi
Salah satu hal yang diangkat oleh pemateri adalah ribetnya birokrasi energi di Indonesia. Banyaknya tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk dapat mengimplementasikan pemanfaatan energi terbarukan pun dipaparkan. Untuk mendapatkan izin, harus bernegosiasi terlebih dahulu dengan PLN pusat, lalu dengan PLN regional, lalu dengan local mayor yang biasanya akan meng-insist terbentuknya joint venture dengan pihak pengembang. Sehingga, dikatakan oleh pemateri bahwa hal ini sangat menyulitkan. "Only a handful project has succeeded in doing so..." Dikatakan juga bahwa pertumbuhan dari pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia lambat dan 'ajeg', yang lagi-lagi didominasi oleh geotermal dan hydro power. Dari policy pun tidak terlihat pertumbuhan yang signifikan.
Vietnam
Memiliki target suplai energi dari energi terbarukan sebesar 5% di tahun 2020. Tidak mekanisme yang spesifik untuk mencapai target tersebut from the local government. Selain itu, pemateri pun belum terlalu banyak beraktivitas di sini dan baru berencana untuk berinvestasi di projek power generation dari anaerob digestion.
Malaysia
Baru saja mengenalkan skema FiT dengan target 2000 MW ter-install di tahun 2020. Skema ini dilengkapi dengan fitur degression FiT yang mengakomodasi penurunan dari tarif/kWh seiring waktu sampai commission of the plant. Skema dari FiT yang digunakan di Malaysia,
-Biomass: 10 UScents/kWh
-Biogas: 10 UScents/kWh > karena Malaysia memiliki perkebunan kelapa sawit yang besar dan after-product dari komoditas perkebunan ini cenderung menyebabkan polusi
Filipina
Target suplai energi dari energi terbarukan disebutkan oleh pemateri. Untuk persoalan investasi di bidang ini, mereka agak membatasi dengan mendorong partnering dengan perusahaan perusahaan local. Beberapa insentif pun kurang lebih sama dengan yang diterapkan oleh Thailand, etc.
Untuk potensinya, Filipina sudah menyadari besarnya potensi dari geotermal mereka yang hingga saat ini sudah termanfaatkan sebesar 1000 MW. Tak ketinggalan juga hydro power. Namun, untuk pemanfaatan energi terbarukan ini, skema yang digunakan pun belum terlalu jelas (lack of clarity of the scheme).
Ada dua studi kasus yang disampaikan pemateri. Dua studi kasus tersebut masing-masing berada di Indonesian dan Thailand yaitu,
Geotermal di Indonesia
40% sumber geotermal dunia ada di Indonesia yang setara dengan 28000 MW, harusnya cukup meng-elektrifikasi setiap rumah yang ada. Di tahun 2010, Presiden merencanakan pembangunan pembangunan 44 plant dengan kapasitas total sebesar 4000 MW.
Studi kasus yang diambil adalah Wyang Windu yang dioperasikan oleh Star Energy,sebuah perusahaan UK yang saat ini diakuisisi oleh Petronas Malaysia. Mulai beroperasi sejak tahun 2000 dengan kapasitas 227 MW dan teregistrasi untuk mendapatkan Carbon credits. 127 MW tengah dikembangkan.
Namun,terdapat problem yang muncul dari eksploitasi sumber energi ini. 80% potential site dari geotermal ini berada di hutan konservasi. Dan ini terkait dengan financing dari bank untuk pembangunan plant.
Landfill gas di Thailand
Dioperasikan di sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) di Bangkok tahun lalu dengan kapasitas pembangkitan 16 MW. Per harinya 5300 ton sampah di-dump di sini. Benefit yang di dapat dari projek ini berasal dari FiT yang berlaku di Thailand yang untuk komoditi ini sebesar 17 UScents/kWh.
Pemateri membuat point out beberapa hal mengenai pengolahan sampah agar dapat dimanfaatkan untuk power generation. Tentunya cara yang ditempuh pun berbeda dengan yang commonly done di Eropa. Mayoritas sampah di kawasan ASEAN, didominasi oleh produk-produk agrikultur dan makanan. Plastik dan beberapa bahan inorganik lainnya sudah dipisahkan terlebih dahulu. Karena dominasi dari produk-produk organik ini, maka dekomposisi pun berlangsung dalam waktu yang cepat. Hence, gas yang dihasilkan dari dekomposisi tersebut pun didapat lebih cepat. Poin lainnya dibuat oleh pemateri adalah tingkat curah hujan yang tinggi. Pre-treatment perlu dilakukan dengan mengeringkan sampah-sampah tersebut sehingga gas hail dekomposisi pun dapat di-trap untuk selanjutnya digunakan untuk power generation.
Dari hasil kuliah dapat disimpulkan beberapa hal. Pemateri menaruh harapan besar pada geotermal di Indonesia. Ini semua bergantung pada kejelasan arah kebijkan dari pemerintah Indonesia. Lalu diikuti dengan pengembangan solar cell untuk pemanfaatan tenaga surya. Hal ini dikarenakan posisi negara-negara ASEAN yang berada di sekitar equator. Dengan lama penyinaran yang cukup dan 'ajeg' sepanjang tahun, tentunya solar power ini menjadi the promising energy for the future. Yang terakhir adalah biomass. Karena terkenal produk-produk agrikultur-nya, tentunya hal ini tidaklah sulit. Overall, kawasan ASEAN merupakan pasar yang menarik untuk marketing dari project-project energi terbarukan ini. Hal ini akan lebih terasa jika didukung fleksibilitas policy di masing-masing negara tersebut.
0 comments:
Poskan Komentar